Di Persimpangan Cinta dan Kudeta

DARI kesembilan perempuan yang pernah menjadi istri Bung Karno (BK),mungkin Yurike Sanger yang kontroversial. Namanya kerap disembunyikan. Dalam otobiografi BK yang terbit pada November 1965, sang proklamator RI melarang dicantumkan kisah percintaannya dengan anak SMA berumur 16 tahun itu. Meski Cindy Adams kembali menuliskan sederet kisah cinta Sukarno dengan judul My Friend the Dictator (1967), nama bekas anggota ‘pagar ayu’ Barisan Bineka Tunggal Ika tetap misterius. Wartawan senior Kadjat Adra’i yang berhasil mengorek kesaksian Yurike.Dengan melalui penambahan data,perbincangan penulis buku Suka-Duka Fatmawati Sukarno (2008) yang dimulai pada pertengahan tahun 1970-an itu,kini dibukukan dalam Percintaan Bung Karno dengan Anak SMA. Dilihat dari judul, tentu sangat provokatif. Bisa dimaknai berbagai macam.Misalnya apa BK pengidap pedofilia atau hiperseks,mengingat terdapat sejumlah gadis berumur belasan lainnya? Biografi ini mencoba mengungkap.Tidak cukup menyibak sisi cinta BK juga pengalaman batinnya di masa senja kekuasaan. Menikah pada Agustus 1964, BK-Yurike bak remaja yang terbakar api asmara. Yurike masih tidak percaya,bahwa gadis yang bau kencur seperti dirinya,dicintai oleh ‘pemimpin Indonesia’.Ketertarikan BK kepada Yuri muncul saat kegiatan kepresidenan di Istora (Istana Olahraga). Dari 100 orang anggota,Yuri adalah kutub magnet berbeda bagi BK. Saat berkenalan, Yuri dikira sudah dewasa. Padahal, dia masih duduk di bangku kelas 3 SMP. Berulang kali rayuan dilancarkan. Ramah-tamah dengan pengurus Front Nasional menjadi momentum penting, selanjutnya. Karena “pasukan”Yuri ikut memeriahkan dan tanpa basa-basi,BK mengantarkan pulang dan mengutarakan keinginan bertemu dengan orang tuanya. Sesampai di rumah, ternyata BK tidak dikenal sebagai Presiden. Dengan seenaknya ayah Yuri memakai baju tidur; mengangkat kaki saat berbicara; dan mengutarakan sejumlah ketidaksetujuannya terhadap sikap Presiden pertama RI tersebut. Lebih dari itu, ibu Yuri mengiranya sebagai Kepala Kesenian Istana. “Ma…ma..- maaf, Pak. Saya benar-benar tidak tahu”. Ucap Ayah Yuri saat mengetahui bahwa yang sedang berbicara dengannya adalah sang Proklamator. (hlm.74) Beberapa hari kemudian, saat Yuri sedang bermain gelang bersama sang adik di rumah, BK datang.Untuk apa? Tentu sang great lover ini ingin mendapatkan hati sang gadis.Keliling kota disertai dengan pengawalan; dihantam sejuta rayuan; hingga ditraktir beberapa tusuk sate, membuat hati Yuri kian berdebar. PDKT (pendekatan) BK seperti ini dilakukan bahkan sampai sembilan kali. Kesederhanaan Yuri yang membuat hati BK tertambat kepada wanita ini untuk ke sekian kali. BK menunggu waktu yang tepat untuk mengatakan isi hati secara terangterangan. Setelah meminta Yuri memanggilnya “mas”; mampu meluluhkan hati orang tua Yuri; dan pada gilirannya BK mengatakan cinta.BK mengutarakan keinginan untuk mempersunting Yuri dalam beberapa kali. Setelah diterima, beberapa bulan setelah masa “pacaran”, mereka melangsungkan pernikahan.Yuri merasa menjadi wanita beruntung di dunia, meski sempat menjadi pergunjingan teman- temanYuri. Pernikahan berjalan lancar. Sayangnya, tanpa “Malam Pertama”. Sesaat setelah pernikahan, BK memohon pamit karena masih memiliki agenda yang padat.Beberapa hari kemudian, BK mengajak Yuri ke istana. Bagi Yuri, menjadi istri BK, lebih merupakan keperkasaan nasib. Hidup Yuri dihabiskan sarat kebahagiaan, meski sering “dicumbu” BK hanya dengan surat cinta. Hampir tiap saat,Yuri kagum pada kepribadian BK.Kesan terindah pada bulan-bulan pertama pernikahan saat mendapat surat ucapan selamat hari Natal. Namun, tiba-tiba kehidupan berubah.BK bersama keluarga terusir dari istana beberapa saat setelah peristiwa G 30 S/ 1965.Padahal, saat itu BK tidak memiliki rumah. Saat itu, BK mengibaratkan dirinya bak akhir dari perjalanan kayu demi nyala api unggun. BK lebih memilih tidak membubarkan PKI demi keutuhan bangsa. Curahan hati BK berkali-kali ditujukan terhadap para pejabat yang keblinger. Hebatnya, BK berusaha tidak membuat kening Yuri lebih mengerut, lantaran mendengar keluhan BK, terutama dalam urusan politik. BK menjadi wong cilik. Orang-orang yang tadinya gemar memuja BK, serentak menjauh. Bahkan untuk menikahkan salah seorang putrinya, dia mencari hutangan. Namun, BK tak pernah kecil hati. BK tetap tegar dan ikhlas terhadap apa yang terjadi, termasuk ditinggalkan sejumlah orang yang telah dibantunya. Buku ini banyak mengungkap fakta baru, meski masih bisa diperdebatkan. Hal ini kian mempermudah kita untuk menyelami mentalitas salah satu tokoh besar negeri. Biografi ini mirip novel, karena sebagian besar kalimat dan paragraf diramu dalam bentuk percakapan. Latar belakang penulis sebagai jurnalis, membuat buku ini terasa hidup.Namun,pembaca tetap perlu jeli melihat fakta sesungguhnya di balik imajinasi penulis yang terkadang tampak “liar”. Di persimpangan cinta dan kudeta, ada kesepian, kerinduan, hasrat yang meledak- ledak dan kegelisahan Yuri. Di persimpangan itu pula, BK bertemu tikungan terakhir kekuasaan. Ucapan BK “ I must have sex every day” gugur sesaat setelah bercerai dengan wanita yang tak lagi anak baru gede (ABG).(*)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s